Dulu, aku dan suami adalah rekan kerja. Setiap pagi kami berangkat dan pulang bersama di malam hari. Bertahun-tahun duduk berdampingan di balik meja kerja untuk berbagi stres: menyusun strategi, menghadapi tekanan, dan mengejar target.
Hidupku rasanya produktif. Sibuk. Berarti. Tapi di satu titik, aku merasa ada yang kosong. Seperti kehilangan sesuatu yang tak bisa diukur dengan angka atau diselesaikan dengan rapat strategi.
Lelah fisik bisa sembuh dengan tidur, tapi lelah batin? Itu butuh ruang, waktu, dan kejujuran. Aku merasa, aku tidak memiliki kehidupan.
Lalu, di tengah semua kesibukan itu, aku memilih untuk mengambil keputusan besar. Melepas identitas yang selama ini begitu melekat yaitu “Aku si wanita karir”. Jujur, awalnya sangat menakutkan. Tapi justru dalam masa transisi itu, aku mulai mendengar kembali suara hati yang lama terabaikan.
Aku bertanya “Apa yang benar-benar membuatku hidup? Di mana aku merasa paling hadir, paling berarti?”
Dari sini, aku menemukan diriku kembali di ruang-ruang belajar. Di Dunia PENDIDIKAN. Aku mulai mencari, menemukan, dan terjun ke dalam bidang yang selama ini ada di dalam hati dan hidupku. Bukan hanya sebagai murid dalam kehidupan, tapi sebagai orang yang terlibat dalam pendidikan. Menjadi pengajar, ya menjadi pengajar untuk anak-anak.
Dimulai dari anak usia 3–6 tahun, berlanjut ke usia 7–10 tahun, hingga siswa SMP dan SMA. Aku menemukan sukacita dalam membantu orang lain memahami sesuatu. Aku menikmati waktu-waktu di mana aku bisa terlibat dalam proses dan perjalanan akademik mereka. Dengan sabar, melihat senyum dan antusiasme dari mereka yang sedang belajar. Rasanya hangat. Penuh makna.
Dari meja kantor yang dulu penuh jadwal rapat dan target bulanan, aku kini lebih sering duduk di meja kecil penuh buku, gawai pendukung kerja, lembar belajar, dan rencana pembelajaran. Aku belajar menemukan dan menciptakan ide-ide spontan dari anak-anak. Aku juga lebih sering hadir di komunitas, berdiskusi tentang literasi, mimpi, dan kesehatan mental. Karir mungkin tak lagi “mengkilap” di atas kertas, tapi kini aku merasa lebih jujur, lebih utuh.
Sebelumnya, aku menghabiskan tujuh tahun bekerja di industri F&B dan 10 bulan di industri quick commerce sebuah pengalaman berharga yang tak hanya membentukku secara profesional, tapi juga secara pribadi. Di sana aku belajar tentang ritme kerja cepat, pelayanan, kolaborasi tim, bahkan pengembangan diri. Saat di F&B aku pernah mendapatkan recognition yang sangat berarti: menjadi Partner of the Month dan Barista of Our Hearts di saat aku merasa sedang berada di titik terendah hidupku. Bukan hanya rutinitas hariannya yang membekas, tapi juga koneksi, pelajaran hidup, dan jaringan yang bahkan menjangkau hingga luar negeri.
Selama bekerja, aku juga senang terlibat lebih dalam, dimulai dari menjadi mentor untuk Creative Youth Entrepreneurship Program, hingga terlibat dalam Employee Training, serta mewakili Store and Company dalam beberapa kompetisi. Aku menyukai proses belajar, berbagi, dan bertumbuh baik untuk diriku sendiri maupun bersama orang lain. Rasanya aku hidup.
Setelahnya, aku sempat mencoba tantangan baru dengan mengikuti seleksi di salah satu perusahaan EduTech terbesar di Asia Tenggara. Prosesnya panjang sampai membuat aku lupa kapan aku memberanikan diri untuk apply dalam posisi ini. Prosesnya menantang dari tes online, microteaching, hingga siap untuk mengajar. Tapi dari situ aku sadar bahwa dunia pendidikan dan pengembangan diri adalah rumahku, zona nyaman ku. Ada api yang selalu menyala dan membakar semangatku di sana.
Selama perjalanan karir, one thing that has never changed is the support from my family. Mereka tak pernah mengomentari pilihanku secara negatif. Mereka tahu I would always be honest and vocal about what I do. Bekerja dari sejak belum menikah hingga menjadi istri dan Ibu, aku selalu dapat jam pulang sampai larut malam. Tapi suamiku selalu ada. We made compromises, bahkan menjadikan perjalanan pergi dan pulang sebagai momen berdua yang sederhana namun berarti.
Di tahun 2023, ketika suamiku sakit, aku tahu ini saatnya mengambil jeda. Aku membutuhkan fleksibilitas untuk tetap hadir di rumah menemani anak, mendampingi dan merawat suami, sekaligus tetap menjalankan my calling as a teacher/educator. Pada tahun yang sama, aku berkesempatan mulai perjalanan volunteer di komunitas. It felt like everything came together at the right time.
Bagiku, perjalanan karir bukan garis lurus. Kadang kita perlu take a detour, pause, or even step back. Bukan untuk menyerah, tapi untuk menemukan arah yang lebih sesuai. Dan kalau aku boleh jujur, di titik ini meski masih terus belajar dan tumbuh tapi akhirnya aku merasa, I’ve come home.
#IbudanKeluarga #Edisi_2 #Mendobrak_Batas
Credit ilustrasi oleh Shanty Manurung