Sisa Identitas. Aku Seorang Ibu, Bolehkan Menjadi Sosok Lainnya?

Laras Ayu

Awal Perubahan

“Saya tidak pernah menyangka bahwa momen paling membahagiakan dalam hidup saya, menjadi Ibu, juga akan menjadi awal dari kehilangan terbesar. Kehilangan diri saya sendiri!”

Belum sampai 2 tahun saya melahirkan, hidup saya berubah drastis. Bukan hanya soal jadwal tidur atau rutinitas harian, tetapi juga tentang IDENTITAS. Orang-orang mulai mengenal saya sebagai "Mamanya Elina", bukan lagi dengan nama saya sendiri. 

Saya menyadari bahwa saya yang dulu memiliki cita-cita, hobi, dan pekerjaan, kini hanya memiliki satu peran: Ibu. Satu kata penuh makna.

Tantangan dan Tekanan

"Sekarang kerja apa?" Pertanyaan yang begitu menakutkan. "Di rumah, mengurus anak," jawaban singkat ini terasa begitu memalukan. Perasaan tidak berdaya dan tidak berguna mulai menggerogoti. Seolah-olah menjadi Ibu di rumah bukanlah sebuah pekerjaan yang bernilai.

Dorongan untuk menjadi sempurna kemudian mengambil alih hidup saya. Saya berusaha keras menjadi ibu yang sempurna—memberikan ASI eksklusif, membaca banyak buku parenting, mengikuti kelas-kelas parenting, berusaha mengikuti semua hal yang sudah saya pelajari tentang mengurus anak.

Namun, dalam proses mengejar kesempurnaan ini, saya justru kehilangan koneksi dengan diri sendiri, bahkan dengan orang-orang terdekat lainnya. Rasa tidak percaya diri semakin menguat karena saya tidak lagi bekerja dan tidak memiliki penghasilan. Pikiran negatif kerap muncul karena saya merasa sangat tidak baik menjadi istri: bagaimana jika saya ditinggalkan? Apa yang bisa saya lakukan kalau saya ditinggalkan?

Dampaknya mulai terasa dalam kehidupan sosial saya. Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain mulai menurun. Saya enggan keluar rumah, takut bertemu kenalan, khawatir ditanya tentang aktivitas saya yang monoton. Emosi menjadi tidak stabil—mudah marah karena hal sepele, menangis tanpa sebab yang jelas, atau meluapkan kekesalan pada orang-orang terdekat.

Menghadapi Postpartum Depression

Titik terendah terjadi sekitar satu tahun setelah melahirkan, masalah yang datang selama setahun ini datang silih berganti, membuat emosi saya semakin tidak terkontrol, dan kemudian saya didiagnosa mengalami postpartum depression. Konsultasi dengan psikolog dimulai, terapi rutin dilakukan, namun proses pemulihan terasa sangat lambat. Puncaknya terjadi ketika saya mengalami panic attack yang sangat parah. Jantung berdebar kencang, napas tersengal-sengal, dan perasaan seperti dunia akan runtuh. Saya harus dirujuk ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan penanganan intensif.

Refleksi dan Pencerahan

Dalam proses penyembuhan yang dibantu oleh tenaga profesional, saya memiliki banyak kesempatan untuk merefleksikan kondisi saya. Mengapa saya bisa sampai pada titik ini? Apa yang sebenarnya terjadi dengan diri saya?

Perlahan, saya mulai memahami bahwa menjadi ibu tidak berarti menghilangkan identitas sebagai individu. Mencintai anak dengan sepenuh hati tidak semestinya menghilangkan seluruh aspek kehidupan pribadi. Saya menyadari bahwa selama ini saya menetapkan standar yang tidak realistis—berusaha menjadi Ibu sempurna dengan mengabaikan kesehatan mental dan kebahagiaan diri sendiri. Pencerahan ini menjadi titik balik dalam perjalanan pemulihan saya. 

Langkah Demi Langkah Menuju Pemulihan

Proses pemulihan yang saya jalani dimulai dari hal-hal sederhana namun bermakna: membangun rutinitas pribadi dengan bangun 30 menit lebih awal untuk waktu saya sendiri, menghidupkan kembali passion menulis melalui Program Comeback Journey Penulis Ibu Punya Mimpi, dan membangun support system yang memberikan dukungan positif. Saya juga mulai konsisten menjalani terapi dengan psikolog, belajar teknik pernapasan dan mindfulness, serta menerapkan self-care sederhana seperti perawatan diri dan memperhatikan penampilan. Yang tak kalah penting adalah membangun komunikasi terbuka dengan keluarga, terutama suami, untuk mengekspresikan perasaan dengan jujur dan sehat.

Langkah terberat namun paling transformatif adalah belajar memaafkan diri sendiri dan meninggalkan sifat perfeksionis yang selama ini membelenggu. Menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari pembelajaran dan menyadari bahwa saya tidak perlu sempurna membuka ruang untuk pertumbuhan yang lebih sehat. Self-compassion ini memungkinkan saya fokus pada perbaikan berkelanjutan daripada terjebak dalam penyesalan, sehingga setiap langkah kecil—dari menulis jurnal hingga terapi rutin—menjadi fondasi untuk menemukan kembali identitas saya di luar peran sebagai ibu, menciptakan keseimbangan hidup yang lebih bermakna.

Perjalanan yang Masih Berlanjut

Setiap langkah kecil ini memberikan saya kekuatan untuk melangkah lebih jauh. Ada hari-hari di mana saya mundur, merasa frustasi, atau ingin menyerah. Tetapi kini saya tahu bahwa kemunduran adalah bagian normal dari proses pemulihan, bukan kegagalan.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menjadi Ibu adalah anugerah yang luar biasa, tetapi kehilangan jati diri bukanlah harga yang harus dibayar untuk mendapatkannya. Setiap Ibu berhak bahagia dan sehat, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga yang dicintainya.

Perjalanan menemukan kembali identitas setelah menjadi ibu memang tidak mudah, tetapi sangat mungkin untuk dilakukan. Satu langkah kecil pada satu waktu, satu hari pada satu waktu, kita bisa kembali menjadi versi utuh dari diri kita—seorang ibu yang juga seorang individu yang lengkap dan berharga.

 

#CeritaPerubahan #Edisi_2 #Mendobrak_Batas

Credit ilustrasi oleh Shanty Manurung