
Bagi seorang Ibu, career switch bukan sekadar ganti pekerjaan—rasanya seperti pindah jalur kereta di tengah perjalanan, sambil tetap menyuapi anak, mencari kaos kaki yang hilang, dan memikirkan menu besok pagi.
Di balik riuhnya suara gelak tawa dan tangisan anak, di balik riwehnya pekerjaan rumah yang tiada habisnya, diam-diam ada satu sosok yang bermetamorfosis: seorang Ibu. Tidak ada yang menyadari kekuatan ‘alam bawah sadar’ seorang ibu meningkat tajam: kemampuan manajemen waktu yang matang, tingkat resiliensi atau bounce back yang tinggi, multitasking, improvisasi level popok bocor, dan kemampuan problem solving yang sudah teruji.
Kemampuan baru inilah yang mendasari banyak ibu menginginkan career switch. Seperti ulat yang sebelumnya hidup di antara dedaunan lalu bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, ada dorongan kuat dalam diri seorang ibu untuk mengembangkan sayapnya untuk menjelajahi dunia karier yang baru. Meski begitu, ia tetap membutuhkan “habitat” lamanya sebagai tempat kembali dan bertumbuh.
Namun, sebelum menjelajahi, banyak ibu yang masih bingung ke mana arah terbang yang tepat bagi mereka. Termasuk saya. Ada fase awal yang kosong. Seperti kepompong yang baru terbuka: sangat pelan, berusaha keluar. Takut akan ketidakpastian. Lebih nyaman di dalam naungan kepompong yang hangat. Ragu. Tetapi ada hasrat kuat untuk bebas. Sampai akhirnya, setelah beberapa kali mengepakkan sayap, siap terbang bebas.
Setelah keluar dari kepompong banyak ibu yang masih bingung arah karir apa yang akan diambil. Maka dari itu, ada beberapa strategi taktis yang praktis bagi ibu yang ingin melakukan career switch:
Mulailah dari tiga hal ini: hal apa yang bikin ibu excited, yang sesuai sama ritme ibu dan pengalaman seperti apa yang ibu inginkan nantinya. Kadang masalahnya bukan salah profesi, tapi bentrok sama fase hidup.
Kumpulkan berbagai pengalaman dari masa lalu. Yang paling mudah adalah dari pekerjaan lama, freelance, volunteer bahkan manajemen rumah tangga. Keterampilan rumah tangga yang sangat berguna contohnya : kemampuan komunikasi, negosiasi, manajemen proyek, regulasi emosi dan leadership.
Ritme 9 to 5 dirasa sudah tidak relate lagi dengan status ‘ibu’ yang tersandang indah di bahu. Ibu bisa memilih jenis pekerjaan yang lebih adaptif dan fleksibel: dunia digital dan kreatif (virtual assistant, content writing, social media management, digital marketing) dan remote work (freelance, kerja jarak jauh).
Career switch paling aman biasanya lewat transisi kecil, seperti:
Ikut bootcamp, mini course, kursus bersertifikat, atau ambil online class yang sesuai dengan pilihan yang telah ibu ambil. Terlalu banyak pilihan, bingung mana yang pas untuk seorang ibu? Tidak perlu, ragu. Ibu Punya Mimpi punya banyak pilihan online course yang dikhususkan untuk seorang ibu. Kelasnya sangat fleksibel, mengerti kebutuhan waktu ibu yang random, dan support system yang selalu backup mental ibu agar tetap waras tentunya.
Motivasi itu seperti sinyal WiFi tetangga. Kadang muncul, kadang hilang. Yang menyelamatkan justru sistem kecil: 1 jam belajar tiap malam sebelum tidur, target kecil mingguan, dan template kerja. Kalau cuma mengandalkan motivasi saja, tiga hari di awal memang menggebu-gebu, tetapi biasanya berhenti di tengah jalan.
Meski pekerjaan sesungguhnya belum dimulai, zaman sekarang yang relate itu storytelling-nya. Posting pemikiran, sharing proses belajar, cerita pengalaman hidup dan dokumentasi proses itu diperlukan. Jaman sekarang orang sering membeli ‘kedekatan’ sebelum membeli jasanya. Diri sendiri pun merasa jauh lebih percaya diri dan tenang dalam menjalani prosesnya.
Bagaimana, Bu? Sudah mantapkah menentukan arah? Sudah tidak terbawa ke mana arah angin membawamu, kan ya? Hehe. Amankan kursi ibu di berbagai online course maupun event terdekat, ya. Pantau updatenya di sosial media Ibu Punya Mimpi. Selamat kembali berkarya! (DMY/OPP)
*
Kenalin, aku Demay (27), seorang IRT dari Kebumen, Jawa Tengah, full-time mom untuk dua jagoan kecil (6 & 1 tahun). Di sela kesibukan rumah, aku juga aktif sebagai content creator, freelance writer, dan voice-over talent pemula. Aku jatuh cinta sama dunia Harry Potter, senang belajar bahasa Inggris, dan punya passion besar di dunia self-development.