
Ada tubuh yang bergerak otomatis setiap pagi: menyiapkan sarapan, membereskan cucian yang menumpuk, berbelanja hingga menjawab telepon penting di sudut dapur. Namun diam-diam, ada mimpi yang masih mengetuk pelan di dalam kepala mereka.
Ada ibu ingin kembali berkeringat di lapangan olahraga. Ada pula ibu yang justru ingin hidup lebih pelan dan merasa utuh kembali. Dari luar semuanya memang tampak baik-baik saja, padahal sering kali itulah cara seorang ibu menyembunyikan lelahnya.
Dulu, ada tubuh yang aktif berolahraga. Tubuh yang terbiasa berlari di arena race, hingga berhasil finish di urutan ketiga pada 14K Gede-Pangrango Trail Run. Namun setelah menikah, semuanya berubah. Kesibukan mengurus rumah dan keluarga membuat olahraga perlahan berhenti. Kini, ia justru lebih sering berlari di area rumah mengejar anak yang menolak mandi.
Mari mengenal lebih dekat Bu Eno, ibu satu anak asal Sidoarjo yang juga Lead Social Media Ibu Punya Mimpi.
Di sisi lain, ada Bu Prima, ibu satu anak asal Depok yang menjadi volunteer divisi Event Organizer sekaligus lead di Ibu Punya Mimpi. Hidupnya begitu penuh. Berlari dari satu deadline ke deadline lainnya, hingga akhirnya beliau merasa kosong. Begitu kosong hingga muncul pertanyaan tentang makna hidup dan apa arti mindfulness.
Awalnya, mereka berdua berada di dua jalan yang berbeda. Satu ingin aktif kembali, sedangkan yang lainnya ingin pause atau berhenti sejenak. Namun ternyata salah. Keduanya sedang menuju titik yang sama : pulang ke diri sendiri. Menjadi utuh kembali tanpa embel-embel istri atau ibu.
Setelah vakum hampir sepuluh tahun, Bu Eno sempat ragu untuk kembali berlari. Ada rasa takut dianggap mengabaikan keluarga, belum lagi komentar-komentar miring yang mungkin muncul. Seperti pada umumnya sesuatu yang baru saja dimulai, rintangan seperti jadwal padat dan anak sakit terjadi tepat di hari-hari pertama beliau mengambil langkah.
Namun, Bu Eno tetap berani melangkah. Beliau mulai melengkapi peralatan untuk strength training di rumah sebagai langkah pertamanya. Dukungan besar dari sang suami semangat dari ibu-ibu atlet di IPM, bahkan postingan Instagram story K-pop Idol, Donghae Super Junior sukses membuat Bu Eno bangun dari rebahan dan lanjut menyusun barbelnya. Beliau mengatur ulang waktu harian sehingga bisa ikut beberapa race selama pertengahan tahun 2026 ini, “Setelah race terakhir di Ijen Trail Run 2016 lalu”, katanya sambil tertawa.
Berbeda dengan Bu Eno yang ingin kembali aktif, Bu Prima justru sedang belajar memperlambat hidup. Beban Long Distance Marriage dengan suami, menjadi caregiver bagi orang tua yang sudah lansia, juga amanah baru di tahun 2026 sebagai Program Manager Festival Mimpi Ibu, membuat beliau akhirnya sampai di satu titik: keinginan untuk slow living atau hidup lebih tenang.
Namun menariknya, justru dengan tanggung jawab besar ini, bu Prima semakin mendekat pada keinginannya untuk hidup lebih mindful. Ia mulai menyederhanakan hidup. Mempekerjakan ART, mengurangi aktifitas di komunitas yang sudah tidak lagi relevan, dan memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk benar-benar hadir dalam keseharian. Kini, ia bisa menyeduh teh dengan menikmati aroma teh dan manisnya gula, menikmati rasa hangat dari gelas yang mengalir ke tangan. Bukan sekadar minum teh sambil terus berpikir tentang apa yang belum selesai.
“Satu hal yang menjadi value utama saya, yaitu saya ingin punya keleluasaan & kebebasan untuk beraktualisasi diri tanpa melalaikan peran & tanggung jawab saya sebagai seorang ibu & istri. Saat jadwal dirasa terlalu mengikat dan membebani, dengan sendirinya saya akan memberi jeda pada diri sendiri. Dan saat dirasa terlalu santai/kurang produktif, saya akan kembali membuat jadwal untuk membantu saya disiplin”, ungkap Bu Prima.
Dengan dukungan penuh dari keluarga, beliau bercerita bahwa mimpi Bu Prima selanjutnya adalah membuat konten edukasi tentang review dan analisis buku-buku sastra anak di TikTok. Sedangkan Bu Eno ingin ikut Hyrox dan kembali berdiri di podium race. Mereka berdua berpesan pada ibu-ibu lainnya, bahwa:
“Bu, mending menyesal setelah eksekusi, daripada menyesal karena nggak pernah berani eksekusi. Mengutip dari Pandji Pragiwaksono: Mimpi itu gak pernah mati. Dia hanya pingsan dan bangun lagi di masa tuamu dalam bentuk penyesalan.”—Bu Eno.
“Jangan ragu untuk memulai dan tak perlu menunggu sempurna, Bu. Meski semesta tidak langsung mendukung langkah kita. Use what you have, do what you can, & start where you are. Kesempatan-kesempatan baik akan datang dengan sendirinya saat kita juga mempersiapkan diri dengan baik.”—Bu Prima.
Ada juga pesan khusus lainnya:
“Untuk ibu yang merasa sendirian, saya paham pasti tidak mudah. Mulai dengan kontemplasi dan refleksi tentang apa yang Ibu inginkan dan Ibu butuhkan saat ini. Temukan ‘the big why’. Lalu, susun langkah-langkahnya; fokus pada kekuatan yang Ibu punya saat ini. Trust the process.”—Bu Prima. (DMY/OPP)
*
Kenalin, aku Demay (27), seorang IRT dari Kebumen, Jawa Tengah, full-time mom untuk dua jagoan kecil (6 & 1 tahun). Di sela kesibukan rumah, aku juga aktif sebagai content creator, freelance writer, dan voice-over talent pemula. Aku jatuh cinta sama dunia Harry Potter, senang belajar bahasa Inggris, dan punya passion besar di dunia self-development.