
Ibu-ibu desa identik dengan gaptek? No more ya!
Di tahun 2026 ini, hampir seluruh ibu di Indonesia dari berbagai usia pasti punya smartphone sendiri. Terkhusus ibu-ibu, fungsi utama smartphone digunakan untuk berkomunikasi—dengan saudara, grup arisan, guru sekolah anak, siapapun bahkan dengan pedagang sayur tetangganya. Fungsi lainnya adalah untuk hiburan seperti scroll sosial media. Tapi semakin ke sini, semakin banyak ibu yang melek digital dan dapat memanfaatkan smartphone dengan lebih baik lagi, seperti belajar hal baru.
Semangat belajar ini mengingatkan kita kepada nama besar Raden Ajeng Kartini. Dahulu beliau semangat memperjuangkan pendidikan untuk perempuan Indonesia. Maka hari ini kita lihat diri kita sendiri ikut memperjuangkannya—via digital. Ibu-ibu masa kini tidak lagi dianggap gaptek, melainkan Kartini modern yang melek teknologi dan terus ingin bertumbuh.
Bagai sedang membuka jendela lalu kita dapat melihat pemandangan luas dan udara yang segar, begitu pula saat kita membuka smartphone. Tingkat kesadaran yang semakin tinggi membuat para Ibu akhirnya melihat smartphone seperti jendela dunia. Tak hanya menonton hal-hal baru dan tren terkini, tapi juga melihat berbagai peluang seperti belajar hal baru seperti:
Secara umum, kita menggunakan google untuk mencari pengetahuan praktis harian. Atau teknologi terbarunya AI seperti Gemini, Chat GPT, Cici sampai Meta AI di Whatsapp.
Feed sosial media ibu kebanyakan tentang parenting, masak dan keuangan. Kita senang sekali mulai belajar gratis dari sana. Kita memfollow akun-akun tersebut untuk terus update postingan terbarunya. Contoh Tiktok untuk tips singkat dan tren terbaru, Instagram untuk inspirasi dan komunitas, Facebook dan Threads untuk interaksi, komunitas dan pertemanan. Kalau Youtube biasa untuk menonton tutorial dan podcast. Sedangkan Whatsapp untuk komunikasi dan komunitas belajar.
Selain untuk alat komunikasi utama, smartphone juga memudahkan ibu untuk berbagai akses seperti:
Hari Kartini menjadi pengingat bahwa saat ini kita bebas belajar setara dengan laki-laki adalah berkat beliau. Sebagai perempuan kita tidak boleh berhenti belajar, berapapun usianya. Tak lepas dari seberapa besar tanggung jawabnya.
Kini, kita hadir dengan wajah baru: ibu-ibu yang berani belajar bisnis online, affiliate marketing, mengikuti kelas online, dan mencoba aplikasi baru. Ibu bisa menambah penghasilan tanpa harus meninggalkan anak-anak untuk pergi bekerja. Ibu bisa menambah relasi kapanpun dan dimanapun hanya dengan satu klik di layar. Ibu bisa tetap mendengarkan ceramah ustaz atau podcast sambil beberes. Ibu bisa tetap bertumbuh meski hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Seperti saat ini ibu bisa membaca artikel di majalah online Ibu Punya Mimpi tanpa perlu membeli majalah fisik. Mudah, hemat uang dan tenaga.
Entah dari mana saja; ruang tamu, dapur bahkan di atas kasur, kita bisa menambah relasi, ilmu baru, peluang cuan baru atau bahkan berkarya. Jika dulu Kartini menulis surat untuk membuka kesadaran bangsa, maka ibu masa kini memencet layar smartphone untuk membuka masa depan keluarga.
Selamat hari Kartini, untuk seluruh Ibu Indonesia. Teruslah bertumbuh dan bersinar demi anak-anak, keluarga, bangsa dan negara—dengan caramu sendiri.
*
Kenalin, aku Demay (27), seorang IRT dari Kebumen, Jawa Tengah, full-time mom untuk dua jagoan kecil (6 & 1 tahun). Di sela kesibukan rumah, aku juga aktif sebagai content creator, freelance writer, dan voice over talent pemula. Aku jatuh cinta sama dunia Harry Potter, senang belajar bahasa Inggris, dan punya passion besar di dunia self-development.