Lebaran Core: Waspada Burnout dan Solusinya

Demay

Yang lagi viral di sosial media, lucu pol tapi kok ya… relate banget, hahaha.

Menjelang Lebaran, tiba-tiba “mode super” seorang ibu aktif tanpa aba-aba. Antusiasme bersih-bersih rumah, baking kue Lebaran, belanja baju yang niatnya “sebentar aja” tapi ujung-ujungnya berjam-jam, sampai mendadak pengen redecor ruang tamu. Belum lagi request anak-anak yang datangnya nggak ada habisnya.

Ibu rumah tangga maupun ibu pekerja sama-sama jadi orang paling sibuk di rumah menjelang Lebaran.

Dari yang masih masuk akal, ngelap kaca, ngecat tembok, nyapu langit-langit, sampai kerok lumut, sampai yang levelnya mulai bikin kita mikir, “ini, seriusan perlu?”. Nyapu genteng (tamunya mau disuruh naik ke atas, ya?), beresin gudang (emangnya mau ada yang disekap?), ngelap daun tanaman hias (tamunya kambing?), sampai cuci gorden yang langsung dikomentari, “emang ada yang mau gelantungan?”.

Belum lagi tren terbaru nastar bebek core. Kue nastar berbentuk bebek yang hasilnya beragam: bebek cantik, bebek jontor, bebek meleleh dan bebek rebahan. Jujur, susah banget nggak ketawa kalau lihat yang satu ini.

Kalau dipikir-pikir, maunya kita sederhana kok ya bun, persiapan Lebaran tetap jalan, kerjaan beres, rumah keurus, anak-anak happy, ibadah juga maksimal, apalagi di momen ibadah berburu malam Lailatul Qadar

Tapi kita sering lupa, bahwa saat berpuasa, tubuh ada di mode ‘hemat daya’. Akhirnya, banyak dari kita yang mengalami burnout! Bukan hanya karena nahan lapar, tapi lebih ke terlalu banyak peran sekaligus. Nah, sebelum kita benar-benar “kehabisan baterai” di tengah persiapan Lebaran, yuk kita bahas pelan-pelan: sebenarnya apa saja sih yang bikin ibu gampang burnout jelang Lebaran? Dan yang nggak kalah penting, bagaimana cara mengelola energi supaya tetap waras, sehat, dan tetap bisa menikmati momen spesial ini.

 

Penyebab Ibu Burnout Jelang Lebaran

  • Lonjakan Pekerjaan Logistik

Seorang ibu, baik di rumah maupun bekerja, mendadak harus “meng-handle” semuanya: masak untuk sahur dan buka, bersih-bersih, urus anak, sampai persiapan Lebaran. Aktivitas nyaris tanpa jeda. Ditambah lagi target pribadi, semua harus selesai, rapi, enak, dan terkendali. Ujung-ujungnya, energi terkuras.

  • Kurang Tidur

Bukan cuma fisik yang capek, tapi juga pikiran. Siang sibuk, malam masih lanjut mikir besok harus apa. Bahkan saat sudah rebahan, otak tetap “on”. Apalagi untuk ibu muda dengan bayi dan toddler pasti memiliki jam tidur terbatas, kualitasnya pun sering kurang.

  • Mengabaikan Me Time dan Self Care

Waktu terasa mahal sekali. Mau ambil jeda sebentar saja rasanya sulit. Me time sejenak pun gagal, malah seringnya tidur kelelahan kan bun? Hehe.

Padahal, hal sederhana seperti mandi dengan tenang atau menyisir rambut tanpa terburu-buru bisa jadi “charger” emosional. Tanpa itu, kita makin mudah lelah dan sensitif. Terkadang, keluarga jadi “korban” auman singa betina. ‘ROARRR’.

  • Beban Mental (Ambisi)

Kalau pekerjaan kita ada yang tidak beres atau tidak memenuhi standar kita yang tinggi, kita merasa bersalah (guilty). Standar tinggi bisa menjadi beban mental yang berat untuk menjalani aktivitas harian yang padat. Ditambah jika kita gagal memenuhinya, maka kita akan mengkritik diri sendiri dan merasa gagal.

 

Tips Manajemen Energi Ibu

  • Gunakan Standar Yang Masuk Akal

Jangan memaksakan diri dengan standar tinggi ya bun. Ingat satu hal : Ramadan bukan tentang segalanya harus sempurna, tapi tentang kehadiran kita. Hadir sepenuhnya menyaksikan anak tadarus al-qur’an misalnya, dengan hati tenang tanpa beban pekerjaan. Itu jauh lebih berarti daripada memperhatikan tapi setengah hati.

  • Terapkan Prinsip 80% Cukup

Kehadiran kita untuk beribadah dan untuk keluarga juga sangat diperlukan. Ibadah yang baik adalah yang khusyuk. Percuma kita sholat tapi pikiran ke pekerjaan berikutnya. Percuma kita mengurus anak tapi pikiran kemana-mana. Maka, cukuplah dengan 80% energi dan 80% pencapaian pekerjaan. Sisanya mari kita membentuk tim.

  • Bentuk “Tim Ramadan”

Semua anggota keluarga punya peran. Libatkan mereka dalam tugas harian. Dari hal sederhana seperti beresin meja sampai diskusi menu. Ramadan bukan proyek solo ibu, tapi kerja tim.

  • Self-Care Juga Ibadah

Hapus mindset bahwa merawat diri itu membuang waktu dan egois. Sebaliknya, merawat diri adalah salah satu bentuk tanggung jawab dan rasa Syukur kita terhadap Allah. Hal kecil seperti mandi dengan tenang, istirahat cukup, atau berbicara lembut pada diri sendiri bisa bantu menurunkan stres dan kecemasan.

 

Jadi, yang mana yang paling sering bikin burnout bun? Kalo aku sih, semuanya. Hehe. Semoga tulisan ini menjadi pengingat kita bersama. Bahwa, Ramadan bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang ketulusan. Hadir di setiap momen. Sayangi diri sendiri dan sayangi keluarga.

 

---

 

Kenalin, aku Demay (27), seorang IRT dari Kebumen, Jawa Tengah, full-time mom untuk dua jagoan kecil (6 & 1 tahun). Di sela kesibukan rumah, aku juga aktif sebagai content creator, freelance writer, dan voice over talent pemula. Aku jatuh cinta sama dunia Harry Potter, senang belajar bahasa Inggris, dan punya passion besar di dunia self-development.