
Baru saja belajar menjalani peran sebagai seorang istri, sudah harus menambah peran sebagai seorang Ibu. Belum juga mengeksekusi rencana yang sudah disusun untuk mencapai mimpi baru, sudah harus menyesuaikan jadwal harian dan memastikan seluruh aspek tumbuh kembang anak.
Setiap hari isi kepala penuh dengan nutrisi dan gizi anak yang harus dipenuhi agar tidak stunting. Mulai dari pemenuhan ASI sampai dengan menetapkan menu makanan lengkap. Karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur-mayur, dan buah-buahan harus bervariasi dan tidak itu-itu saja. Belum lagi ide bermain untuk stimulasi anak sesuai dengan usia dan fase pertumbuhannya, termasuk runtutan vaksinasi yang tak boleh terlewat. Beban terasa semakin bertambah saat anak sulit makan, sakit, atau bahkan tumbuh kembangnya dinilai belum sesuai dengan grafik. Padahal seluruh upaya telah dilakukan.
Butuh waktu untuk menerima identitas dan peran baru sebagai seorang Ibu. Memenuhi kebutuhan suami, menyelesaikan rutinitas rumah tangga, memastikan lingkungan rumah senantiasa terjaga kerapian dan kebersihannya, menjadi menu sehari-hari. “Kebahagiaan Ibu adalah kunci kebahagiaan rumah tangga”, kata-kata indah yang juga menjadi pemantik depresi. Bahkan diri sendiri tidak tahu bagaimana menemukan kebahagiaan di tengah penuhnya pikiran saat ini.
Penyebab utama sulitnya menemukan kebahagiaan diri sendiri adalah karena tidak adanya waktu yang disediakan untuk memikirkan diri sendiri. Lebih tepatnya, tidak menyisihkan ruang di otak untuk mengenal kembali diri sendiri. Banyak ibu terlalu sibuk memikirkan dan memastikan agar semuanya berjalan dengan baik, lupa bahwa si pemikir utama—ibu—juga butuh diperhatikan.
Menyediakan waktu untuk memikirkan diri sendiri menjadi peranan penting, karena dengan begitu seorang ibu bisa kembali mengenal identitas sejatinya. Dimulai dengan pertanyaan “Aku akan merasa bahagia jika aku?”. Jawaban yang muncul bisa saja:
Berlari ataupun jalan santai, memberikan waktu untuk jeda sejenak dari suami dan anak. Pada momen itu, seorang ibu bisa menggunakan pikirannya untuk hal lain, seperti merencanakan tujuan hidup-mimpi-baru atau sekadar berkhayal bisa berlibur di negeri Skandinavia. Dengan cardio dance, pikiran dipaksa untuk fokus terhadap gerakan yang diberikan instruktur, hal ini membantu mengatur kembali tindakan yang akan diambil jadi lebih baik saat isi kepala kembali kepada rutinitas yang bikin mumet.
Mencari komunitas yang rutin melakukan diskusi buku dan berbagi ulasan buku, menjadi langkah awal untuk bertemu dengan orang-orang baru dan membangun lingkaran pertemanan baru. Interaksinya bisa jadi lebih mudah karena memiliki objek kecintaan yang sama, yaitu buku. Menjadikan keikutsertaan kegiatan komunitas buku sebagai agenda rutin, adalah cara untuk tetap terhubung dengan dunia luar dan manusia lainnya. Belum lagi dari diskusi dan berbagai rekomendasi buku, tidak hanya mendapatkan sudut pandang yang lebih luas tentang dunia dan kehidupan, tetapi juga menemukan sarana belajar dalam proses pengasuhan anak.
Obrolan seputar film atau serial TV yang sedang digandrungi juga bisa jadi hiburan tersendiri dan jadi bahan interaksi lainnya untuk tetap terhubung dengan orang sekitar. Syukur-syukur kalau serial yang ditonton merupakan film yang juga favorit suami, bisa jadi bahan untuk menghabiskan waktu bersama tanpa merasa menghadapi dunia ini sendiri.
Tantangannya justru terjadi saat menjalankan kegiatan untuk mendapatkan kebahagiaan diri sendiri. Komentar orang dengan kata-kata “lho, anaknya siapa yang ngurusin?” atau “suami nggak apa-apa kalau kamu pergi gini?” membuat rasa bersalah seketika muncul, seolah diri terlalu egois meninggalkan anak dan suami, dan seolah seorang ibu hanya diperkenankan keluar rumah dengan terus ditempelin anak ataupun suami.
Sejatinya, Ibu juga seorang manusia yang layak punya hobi, ketertarikan dan minat tertentu, dan juga berhak mendapatkan perasaan senang atas kegiatan yang dijalankan. Karena dengannya, ibu bisa kembali mengenali identitas diri yang tenggelam di tengah rutinitas harian yang menuntut untuk terus dijalankan.
Di tengah rasa lelah yang berulang kali menghampiri, ada diri yang diminta untuk dimengerti. Menjaga identitas diri dengan menjalankan hobi, bukan penghalang untuk menjalankan peran, tapi justru jadi dopamin untuk menambah energi dan dapat dibagi kepada orang terkasih.
“Identity cannot be found or fabricated but emerges from within when one has the courage to let go." - Doug Cooper (American writer of literary fiction)
"A hobby a day keeps the doldrums away." - Phyllis McGinley (American poet and author of books for juveniles)
So, hobi apa yang sedang Ibu gandrungi untuk tetap menjaga identitas diri? (Ayu/OPP).
***
Hai, aku biasa dipanggil Ayu, seorang pembelajar sepanjang hayat yang gemar membaca dan mengeksplorasi teknologi, khususnya dalam bidang analisis data. Memiliki semangat untuk berbagi pengetahuan dengan cara menyenangkan, bermimpi turut membentuk generasi yang terdidik melalui kegiatan literasi. Di sela kesibukan sebagai seorang ibu, olahraga adalah cara yang dipilih untuk menjaga keseimbangan jiwa dan raga. Urip Iku Urup adalah salah satu dasa pitutur yang terus kujaga.