Ibu Punya Mimpi
← Majalah

Menggunakan AI Untuk Efisiensi Hidup Ibu, Lalu Selanjutnya Apa?

Marisa Paramita

Menggunakan AI Untuk Efisiensi Hidup Ibu, Lalu Selanjutnya Apa?

Ibu Mina adalah seorang Ibu yang bertempat tinggal di Galaxy, Bekasi Selatan. Ia memiliki dua orang anak perempuan berusia 18 dan 3 tahun. Saat ini, Bu Mina tinggal bersama suami, anak-anak, dan orang tuanya. Selain mengurus rumah tangga serta mengantar-jemput anak, ia juga bekerja freelance sebagai virtual assistant

 

Setiap hari, ia bisa berdiskusi dan “curhat” soal filosofi stoik bersama ChatGPT, mencari insight terbaru untuk riset dan pekerjaannya melalui Claude, menggunakan Gemini yang terintegrasi dengan aplikasi Google untuk kolaborasi kerja tim, hingga menikmati pengalaman mengobrol dengan Baibu.id yang memahami konteks budaya dan kebiasaan berbahasa Sunda. 

 

Tanpa terasa, waktu yang dimiliki bu Mina sekarang terasa lebih longgar. 

 

Lalu muncul satu pertanyaan sederhana dalam dirinya:

“Kalau semuanya jadi lebih mudah, lalu selanjutnya apa?”

 

---

 

Aku selalu percaya bahwa teknologi hanyalah sebuah alat - sama seperti alat memasak yang sering kita gunakan sehari-hari di dapur. Pisau yang tajam bisa membantu kita memotong bahan makanan dengan lebih cepat dan efisien. Namun, pisau yang sama juga bisa melukai jika digunakan tanpa pemahaman dan kehati-hatian. 

 

Begitu juga dengan AI.

 

Tanggung jawab terbesar tetap ada pada kita sebagai pengguna: mau belajar memahami alat tersebut atau sekadar ikut menggunakannya tanpa arah. Tidak semua teknologi cocok untuk semua kebutuhan. Setiap alat punya fungsi yang berbeda-beda. Pada akhirnya, semuanya kembali kepada satu pertanyaan penting: 

 

“Kita sebenarnya ingin pergi ke mana dengan teknologi ini?”

 

Namun, ada pertanyaan lain yang menurutku juga penting untuk dipikirkan:

Bagaimana jika alat yang canggih ini sebenarnya tidak benar-benar dibuat untuk memahami kebutuhan kita?

Sampai sejauh mana teknologi mengenali kita, dan sampai sejauh mana kita memahami konsekuensi dari penggunaannya?

Apakah kita nantinya hanya kembali menjadi “end-user” yang data dan perilakunya terus diarahkan oleh iklan dan algoritma marketing?

 

Sebagai user, kita sering diingatkan untuk menjaga data pribadi dan berhati-hati saat membagikan informasi ke platform AI. Namun di sisi lain, tanpa sadar kita juga rutin membagikan foto keluarga, lokasi liburan, bahkan aktivitas sehari-hari melalui media sosial yang terhubung dengan sistem AI dan algoritma serupa.  

 

“Jadi sebenarnya, kapan kita bisa merasa aman menggunakan teknologi?” 

 

Pertanyaan seperti ini hampir selalu muncul setiap kali ada teknologi baru berkembang. Biasanya, semuanya dimulai dari rasa FOMO — takut tertinggal tren. Setelah itu, perlahan muncul rasa nyaman dan terbiasa. Ketika rasa aman mulai tumbuh, kita pun menjadi lebih terbuka dalam membagikan informasi pribadi. 

 

Karena itu, lewat tulisan ini aku ingin mengajak para ibu untuk kembali bertanya kepada diri sendiri tentang tujuan kita menggunakan teknologi AI. Bukan sekadar belajar memakai tools baru, tetapi juga memahami alasan di balik penggunaannya. 

 

Coba tanyakan dua hal ini kepada diri sendiri:

  • Apa tujuan utamaku menggunakan teknologi AI?

  • Ketika tujuan itu tercapai, lalu apa?

 

Menurutku, pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini penting karena bisa membantu kita menjadi lebih sadar terhadap data, kebiasaan, dan waktu yang kita berikan kepada teknologi. Bukan berarti AI berbahaya dan harus dihindari. Namun terkadang kita sendiri lupa: apakah kita benar-benar menggunakan teknologi untuk membantu hidup kita, atau hanya sekadar FOMO?

 

Sayang sekali jika teknologi secanggih ini hanya dipakai karena FOMO. Sama sayangnya jika kita memilih menjauh hanya karena takut pada perkembangan AI di masa depan. Aku justru ingin mengajak para ibu untuk belajar menggunakan “pisau” terbaik dan paling tajam itu dengan bijak. Karena ketika digunakan dengan tepat, AI bisa membantu kita menghemat waktu untuk riset, berdiskusi lebih efektif, menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, dan pada akhirnya… punya lebih banyak waktu untuk bermain bersama anak.

 

Dan sejujurnya, itulah goal hidupku. (MRS/OPP)

 

---

Hai, aku Marisa Paramita - seorang ibu dengan dua anak perempuan yang sangat peduli dengan ibu-ibu Indonesia. Aku percaya, di tengah perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat seperti sekarang, perempuan tetap punya ruang untuk tumbuh, berkarya, dan bermimpi.

Aku punya harapan sederhana: semoga para perempuan hebat Indonesia tidak pernah merasa tertinggal oleh zaman, justru semakin berani belajar hal baru, terus meng-upgrade diri, dan tetap memiliki mimpi untuk dirinya sendiri. Bahkan setelah menjadi seorang ibu.

Sebagai seorang ibu, aku juga percaya bahwa di balik generasi masa depan yang tumbuh bersama teknologi AI, akan selalu ada peran ibu hebat yang menjadi pendukung paling penting di belakangnya.