Mimpi yang Berganti Wajah: Kontemplasi Ibu Menuju Tahun Baru

Debby Arifin

Menjalani hari sebagai seorang ibu tuh rasanya seperti naik roller coaster, naik turun, kiri kanan, cepat banget sampai-sampai kita baru sadar permainan hampir selesai ketika sudah mau turun. Saking hectic dan fokusnya, tahu-tahu kita bengong lihat kalender dan berkata, “Hah??? Sudah mau ganti tahun lagi?”. 

Langsung buru-buru cek list resolusi dan ternyata banyak yang belum tercentang.

“Ngapain aja aku setahun ini?”

“Kenapa banyak banget yang belum tercapai?”

“Apa aku kurang usaha ya?”

In the end, kita malah menyalahkan diri sendiri. Apakah ibu juga merasakan perasaan yang sama di akhir tahun ini? Jika iya, tulisan ini menemani, bukan menghakimimu. Mari bicara jujur tentang kandasnya resolusi, mimpi yang terpaksa dicoret, atau mungkin sengaja diubah demi menjaga kewarasan dan kebahagiaan.

 

MENENGOK KEMBALI JEJAK LANGKAH

Setiap Desember, kita selalu menghadapi momen familiar: kembali melihat resolusi yang gagal tercoret tahun ini dan bersedih.

Ada yang ingin naik jabatan di kantor.

Ada yang ingin mengejar target omset bisnis 1 milyar per bulan.

Ada yang ingin lanjut kuliah atau berburu beasiswa.

Satu goals tidak berhasil tercoret, langsung sedih dan menyalahkan diri sendiri. Padahal, ada satu hal yang ibu lupa:

Hidup itu dinamis.

Tidak tercapainya resolusi bukan berarti kita gagal. Ada banyak faktor X dan hal tidak terduga yang mengalihkan fokus, seperti anak sakit, transisi sekolah, hingga dinamika rumah tangga. Jika kita membuka mata lebih lebar, sebenarnya ada banyak sekali pencapaian tak kasat mata, misalnya,

  • Menyuapi anak saat sakit
  • Menenangkan anak mengalami drama sekolah
  • Mendengarkan keluh kesah pasangan yang lagi stres kerja

Itu semua mungkin tak tercatat di jurnal, tapi jelas sebuah pencapaian. Bertahan dan hadir sepenuhnya untuk keluarga juga sebuah kemenangan. 

 

MENYARING SUARA LUAR

Ketika list resolusi yang panjang itu tidak tercapai, ada satu hal yang sebenarnya harus ibu renungkan kembali: 

“Apakah mimpi ini karena keinginanku sendiri?”

“Apakah ini semua membuatku semangat?”

“Apakah mimpi ini masih relevan?”

Inilah saatnya ibu untuk me-review ulang resolusi yang sudah ditulis. Kita bisa sederhanakan goals dan atur ekspektasi agar kekecewaan yang pernah terjadi tidak muncul kembali. Mungkin ibu bisa mulai merubah goals mengikuti bootcamp dan workshop Social Media Specialist dengan mengikuti kelas gratis. We should know our strength and make the boundaries. Jangan lupa untuk tidak membandingkan backstage (dapur) kita dengan highlight reel (panggung) orang lain di media sosial. You know whats suitable for your own life.

 

MEMBUAT DEFINISI “MENANG” YANG BARU

Jika ibu sudah melakukan review, ini saatnya untuk menentukan cara baru untuk merasa “menang”. Ada tiga poin yang bisa lakukan dalam hal ini:

  1. Minimalist goals. Menyederhanakan resolusi ternyata sangat efektif dilakukan terutama untuk seorang ibu yang sehari-harinya sudah cukup kompleks. Daripada bikin 10 resolusi tapi malah bikin stres, coba pilih 3–5 yang benar-benar penting.
  2. Quality over quantity. Setelah menjadi ibu, membuat resolusi dengan target angka rasanya lebih gampang stres, iya gak sih? Agar ibu tidak terserang stres duluan, coba buat resolusi berdasarkan feel, not number. Misal, daripada membuat goals “Tahun 2026 harus turun 10 kg”, coba ubah menjadi “Tahun 2026 harus atur pola makan dan rajin olahraga”. Being mindful is a must!
  3. Mulai dengan langkah kecil. Terkadang ada ego dalam diri yang membuat kita set the bar too high, even ourself can’t control it. Daripada stres dengan standar yang terlalu tinggi, kita bisa turunkan ekspektasi dan mulai dengan langkah kecil. Buat aksi nyata yang bisa kita mulai besok pagi, tidak perlu menunggu hingga bulan Januari.

 

TETAP BOLEH BERMIMPI, JANGAN LUPA MENCINTAI DIRI SENDIRI 

Tidak ada yang salah dalam bermimpi dan membuat resolusi. Namun, sebagai seorang ibu yang memiliki kehidupan dinamis, alangkah baiknya jika kita tidak terlalu keras terhadap diri sendiri jika list dalam jurnal tidak terpenuhi. Ingat, menjadi ibu yang fleksibel adalah kekuatan, bukan suatu kelemahan. Mimpi kita boleh berganti bentuk, asalkan kita tidak kehilangan diri sendiri di dalamnya. Tahun 2026 masih beberapa langkah lagi, mari berjalan pelan dengan tempo yang nyaman untuk diri sendiri.

Siap menata ulang resolusi? Semangat ya, Bu. Kita mulai lagi tanpa beban, tapi tetap dengan harapan. Apa ibu sudah siap?