
Menjalani hari sebagai seorang ibu tuh rasanya seperti naik roller coaster, naik turun, kiri kanan, cepat banget sampai-sampai kita baru sadar permainan hampir selesai ketika sudah mau turun. Saking hectic dan fokusnya, tahu-tahu kita bengong lihat kalender dan berkata, “Hah??? Sudah mau ganti tahun lagi?”.
Langsung buru-buru cek list resolusi dan ternyata banyak yang belum tercentang.
“Ngapain aja aku setahun ini?”
“Kenapa banyak banget yang belum tercapai?”
“Apa aku kurang usaha ya?”
In the end, kita malah menyalahkan diri sendiri. Apakah ibu juga merasakan perasaan yang sama di akhir tahun ini? Jika iya, tulisan ini menemani, bukan menghakimimu. Mari bicara jujur tentang kandasnya resolusi, mimpi yang terpaksa dicoret, atau mungkin sengaja diubah demi menjaga kewarasan dan kebahagiaan.
MENENGOK KEMBALI JEJAK LANGKAH
Setiap Desember, kita selalu menghadapi momen familiar: kembali melihat resolusi yang gagal tercoret tahun ini dan bersedih.
Ada yang ingin naik jabatan di kantor.
Ada yang ingin mengejar target omset bisnis 1 milyar per bulan.
Ada yang ingin lanjut kuliah atau berburu beasiswa.
Satu goals tidak berhasil tercoret, langsung sedih dan menyalahkan diri sendiri. Padahal, ada satu hal yang ibu lupa:
Hidup itu dinamis.
Tidak tercapainya resolusi bukan berarti kita gagal. Ada banyak faktor X dan hal tidak terduga yang mengalihkan fokus, seperti anak sakit, transisi sekolah, hingga dinamika rumah tangga. Jika kita membuka mata lebih lebar, sebenarnya ada banyak sekali pencapaian tak kasat mata, misalnya,
Itu semua mungkin tak tercatat di jurnal, tapi jelas sebuah pencapaian. Bertahan dan hadir sepenuhnya untuk keluarga juga sebuah kemenangan.
MENYARING SUARA LUAR
Ketika list resolusi yang panjang itu tidak tercapai, ada satu hal yang sebenarnya harus ibu renungkan kembali:
“Apakah mimpi ini karena keinginanku sendiri?”
“Apakah ini semua membuatku semangat?”
“Apakah mimpi ini masih relevan?”
Inilah saatnya ibu untuk me-review ulang resolusi yang sudah ditulis. Kita bisa sederhanakan goals dan atur ekspektasi agar kekecewaan yang pernah terjadi tidak muncul kembali. Mungkin ibu bisa mulai merubah goals mengikuti bootcamp dan workshop Social Media Specialist dengan mengikuti kelas gratis. We should know our strength and make the boundaries. Jangan lupa untuk tidak membandingkan backstage (dapur) kita dengan highlight reel (panggung) orang lain di media sosial. You know whats suitable for your own life.
MEMBUAT DEFINISI “MENANG” YANG BARU
Jika ibu sudah melakukan review, ini saatnya untuk menentukan cara baru untuk merasa “menang”. Ada tiga poin yang bisa lakukan dalam hal ini:
TETAP BOLEH BERMIMPI, JANGAN LUPA MENCINTAI DIRI SENDIRI
Tidak ada yang salah dalam bermimpi dan membuat resolusi. Namun, sebagai seorang ibu yang memiliki kehidupan dinamis, alangkah baiknya jika kita tidak terlalu keras terhadap diri sendiri jika list dalam jurnal tidak terpenuhi. Ingat, menjadi ibu yang fleksibel adalah kekuatan, bukan suatu kelemahan. Mimpi kita boleh berganti bentuk, asalkan kita tidak kehilangan diri sendiri di dalamnya. Tahun 2026 masih beberapa langkah lagi, mari berjalan pelan dengan tempo yang nyaman untuk diri sendiri.
Siap menata ulang resolusi? Semangat ya, Bu. Kita mulai lagi tanpa beban, tapi tetap dengan harapan. Apa ibu sudah siap?