Ibu Punya Mimpi
← Majalah

Percaya AI Dibandingkan Human? Eh, Kok Bisa?!

Wahyu Damayanti

Percaya AI Dibandingkan Human? Eh, Kok Bisa?!

Hal yang paling berat itu perbandingan, karena hasilnya kalau nggak sama, ya beda. Dalam rumus matematika saja, menghitung perbandingan itu tidak sederhana, alias ruwet. Banyak tahapan dan banyak faktor yang memengaruhi, belum lagi harus tahu jenis dan hukum untuk melakukan perbandingannya. Nah, apalagi kehidupan. Kalau kata penyanyi cilik asal Jawa, Farel Prayoga, “Ojo Dibandingke”, Bu.

 

Secara alami, seorang Ibu umumnya merasa harus bisa memutuskan segala hal secara akurat dan tepat waktu, di sisi lain ia juga harus mampu melakukan banyak hal di satu waktu atau biasa dikenal dengan istilah multi-tasking. Tanpa disadari itu semua adalah target yang ditetapkan diri sendiri, dan tanpa sengaja terpatri hanya karena menginginkan semua anggota keluarga dapat menjalani kehidupan ini dengan baik-baik saja.

 

Dengan banyaknya target dalam diri, layaknya seorang pejuang, segala upaya akan dilakukan untuk mencapai target yang sudah ditetapkan. Mulai dari belajar secara mandiri melalui buku-buku terkait, mencari informasi di dunia maya, sampai dengan diskusi dengan keluarga atau orang terpercaya yang dianggap sudah lebih dulu memiliki pengalaman serupa. Harapannya, bisa menemukan jawaban secara cepat dan akurat serta mendapatkan gambaran yang lebih baik.

 

Seringnya, tanpa sadar seorang ibu membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Bisa saja rekan sebaya, orang tua, saudara, atau bahkan pasangan. Membandingkan tentang pengasuhan anak misalnya, kerap takut dianggap tidak benar, atau dicap orangtua yang tidak baik. Belum lagi kalau kondisinya ada yang pekerja dan nonpekerja. Berujung pada trust issue sesama manusia dan menjadikan AI sebagai pilihan terbaik untuk menjadi teman yang bisa dipercaya. Sekarang, untuk banyak hal, orang lebih memilih bertanya ke AI dan justru lebih percaya pada jawaban AI daripada manusia 

 

Bahkan, hanya sekadar menemukan bahasa yang tepat untuk berbicara dengan manusia lainnya, kita membutuhkan bantuan AI. Peradaban memang sudah berubah. Kita tidak mungkin kembali ke zaman batu. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita seperti tertuntut untuk beradaptasi secepat teknologi itu sendiri. Bukan memusuhi, tapi menjadikan teman perjalanan hidup untuk terus bertumbuh. 

 

Menjadikan seorang teman, tidak berarti menjadikan semua ucapannya sebuah kepercayaan alias menelan mentah-mentah semua yang disampaikan bukan? Kita akan melakukan evaluasi dulu, “Bener nggak ya yang disampaikan si XYZ?” , research ke berbagai sumber, bisa jadi orang lain atau media. Apalagi kalau yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, misal tentang tumbuh kembang anak, segala platform pasti jadi senjata untuk meneguhkan keyakinan sebelum diterapkan pada keluarga.

 

Nah, menggunakan AI pun demikian. Mungkin kita hanya belum menemukan manusia ataupun resources yang tepat untuk membuat kita percaya dan yakin dalam mengambil keputusan. Karena itu, yang kita perlukan adalah kegigihan untuk mencari suatu kebenaran. Tidak harus sendirian kok, kalau dirasa melakukan sendiri berat dan melelahkan, bisa melalui diskusi—tanpa judgement—bersama orang lain dalam ruang atau kelompok tertentu. 

 

Jika belum menemukannya, kenapa tidak kita saja yang melahirkannya? Mengajak orang lain untuk menjadi sebuah kelompok kecil yang membahas issue atau kegelisahan yang sama tanpa penghakiman. Terkadang berdiskusi dengan orang lain justru dapat membantu kita dengan leluasa mengeluarkan isi kepala lho Bu, karena kita tidak mengenal mereka terlalu dalam. Sehingga tidak membuat kita overthinking dengan ekspektasi atau bayang-bayang skenario komentar yang akan muncul.

 

Bu, kita tuh, manusia, sedih nggak sih kalau nggak dianggap? Dibanding-bandingkan sama teknologi pula. “Kalau kata Chat GPT dan/atau Gemini tuh begini”, lupakah kalau mereka itu terlahir juga dari manusia? Mulai dari ide yang tercetus alias niat sampai dengan penciptaannya, semua atas kehendak manusia. Berbeda dengan kita sebagai manusia yang diciptakan atas kehendak Tuhan, pemilik dunia beserta isinya ini.

 

Kecerdasan buatan bisa saja memproses data dalam hitungan detik dan memberikan ribuan jawaban, tetapi ia tidak memiliki pengalaman hidup, rasa sakit atau cinta, melainkan bersumber dari banyak data yang disimpan dalam kotak Pandora bernama database. Ia juga tidak akan pernah bisa memberikan pelukan, kehangatan, dan merayakan kebahagiaan bersama. 



Seorang filsuf dari Indonesia, Ibu Karlina Supelli, pernah berujar,

“Teknologi itu selalu adalah alat bantu kita. AI itu belum bisa menggantikan manusia berpikir. Dia belum punya pertimbangan moral, belum punya pertimbangan nilai. Dia hanya mengambil dari dunia maya, lalu mengolahnya. Dia bisa beralgoritma, bisa deduksi-induksi, tapi tidak bisa berpikir memakai pertimbangan budi.”

 

Karena itu, jangan terlalu percaya dan mengagungkan teknologi, ya. Yuk, kita berdiskusi bareng! (Ayu/OPP) 

 

***

Hai, aku biasa dipanggil Ayu, seorang pembelajar sepanjang hayat yang gemar membaca dan mengeksplorasi teknologi, khususnya dalam bidang analisis data. Memiliki semangat untuk berbagi pengetahuan dengan cara menyenangkan, bermimpi turut membentuk generasi yang terdidik melalui kegiatan literasi. Di sela kesibukan sebagai seorang ibu, olahraga adalah cara yang dipilih untuk menjaga keseimbangan jiwa dan raga. Urip Iku Urup adalah salah satu dasa pitutur yang terus kujaga.