Ibu Punya Mimpi
← Majalah

Rayakan Kegagalan: Karena Bangkitmu Setelah Jatuh Adalah Kemenangan

Wulantri Septiningrum

Rayakan Kegagalan: Karena Bangkitmu Setelah Jatuh Adalah Kemenangan

Pernah nggak, Bu, mengalami kegagalan yang saking beratnya membuat tubuh pun ikut merasakan dampaknya?

 

Nggak hanya hati yang sedih, tapi dada ikut terasa sesak, perut mulas, keringat dingin membasahi tangan, hingga sulit tidur. Bahkan tanpa sadar, pikiran tentang kegagalan itu terbawa sampai ke dalam mimpi saat kita tidur.

 

Ditambah lagi pertanyaan menghakimi yang terngiang-ngiang:
“Kenapa aku gagal?”
“Dimana kekuranganku?”
Atau… “Apakah aku tidak bisa? Tapi kenapa aku masih ingin mencoba?”

Sampai kita tanpa sadar menutup telinga agar deretan pertanyaan itu tak terdengar lagi.

 

Tahu, nggak, Bu? Kita jarang menyadari bahwa kegagalan memang bisa terasa sangat personal bagi seorang ibu. Karena ketika kita gagal, sering kali yang terluka tidak hanya mimpi, tetapi juga rasa percaya diri kita.

 

Momok Menakutkan yang Membuat Ibu Berhenti Melangkah

Ibu pasti sepakat bahwa mengalami kegagalan adalah salah satu momen yang membuat kita nggak nyaman. Kecewa, sedih, marah, menyesal, dan malu bercampur jadi satu. Kalau bisa, aku pribadi ingin sekali skip momen ini dalam fase hidupku. Atau, kadang aku selalu berharap punya hati yang kebal, agar tidak mudah down saat mengalami kegagalan.

 

Sayangnya, hidup berjalan tidak sesuai keinginan kita. 

 

Tidak banyak orang membicarakan betapa tidak nyamannya mengalami kegagalan. Orang biasanya hanya menunjukkan hasil akhirnya, yaitu tentang kesuksesan setelah bangkit dari kejatuhan, atau happy ending-nya. Padahal sebelum itu, ada fase ketika seseorang merasa malu bertemu orang lain, merasa takut mencoba lagi, bahkan memilih untuk berhenti. 

 

Psikolog Carol Dweck menjelaskan bahwa manusia cenderung melihat kegagalan sebagai cerminan nilai dirinya, bukan sekadar pengalaman yang sedang dialami. Itulah mengapa gagal bisa terasa sangat menyakitkan. Dan jujur saja, kadang yang membuat kita berhenti melangkah bukan kegagalan itu sendiri, tetapi rasa tidak nyaman setelahnya.

 

Kita takut jatuh lagi.
Takut kecewa lagi.
Takut semua usaha kita berakhir sia-sia.

Akhirnya kita memilih diam di tempat yang sama, hanya karena tidak ingin merasakan sakit lagi.

 

Padahal kalau dipikir lagi, hampir semua hal besar memang nggak langsung berhasil di percobaan pertama. 

Anak bisa berjalan dengan lancar setelah jatuh berkali-kali.
Kita bisa memasak makanan enak, juga lewat beberapa masakan yang gagal.
Bahkan hidup pun sering mengajari kita lewat hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana.

“I have not failed. I've just found 10,000 ways that won't work.” (Thomas Edison)

Bisa jadi, kegagalan bukan tanda bahwa kita harus berhenti, tapi petunjuk bahwa ada cara lain yang perlu dicoba.

 

Merayakan Kegagalan untuk Menjaga Kita Tetap Melangkah 

Kata ‘merayakan kegagalan’ memang terdengar aneh di awal. Mana ada orang gagal lalu dirayakan?

Tapi kalau dipikir lagi, bukankah orang yang gagal sebenarnya adalah mereka yang sedang mencoba? Sementara di luar sana, banyak orang bahkan belum berani memulai. Merayakan kegagalan bukan berarti menikmati rasa sakitnya, tetapi menghargai diri sendiri karena sudah berani melangkah, meski hasilnya belum sesuai harapan.

 

Berikut beberapa cara sederhana untuk melakukannya:

 

1. Berhenti menjadikan kegagalan sebagai identitas diri

Sadar, nggak, Bu? Kadang kita terlalu kejam pada diri sendiri. Satu kesalahan kecil bisa membuat kita merasa tidak berharga selama berhari-hari. Padahal mungkin kita hanya lelah atau sedang belajar.

Ungkapan “aku gagal” terasa jauh lebih berat dibanding “usahaku belum berhasil”.

Dan seringkali, cara kita berbicara pada diri sendiri menentukan apakah kita akan bangkit atau malah tenggelam lebih dalam.

 

2. Kegagalan itu bukan aib, tapi data

Ini salah satu sudut pandang yang sangat menenangkan 

Kegagalan bukan aib. Kegagalan adalah data.

Data tentang apa yang belum tepat.
Data tentang apa yang perlu diperbaiki.
Data tentang arah baru yang mungkin selama ini tidak kita lihat.

Kalau anak kita gagal memahami pelajaran, kita tidak langsung menyebutnya bodoh, kan? Kita akan mencari cara belajar yang lebih cocok untuknya. Lalu kenapa kita begitu mudah menghukum diri sendiri saat gagal?

 

3. Rayakan keberanianmu karena sudah mencoba

Nggak semua orang berani mengambil risiko untuk tumbuh. Ada orang yang terlihat aman bukan karena hidupnya selalu baik-baik saja, tetapi karena ia memilih tidak mencoba apa-apa. Sementara Ibu yang hari ini kecewa karena gagal, setidaknya pernah punya keberanian untuk melangkah.

“Rock bottom became the solid foundation on which I rebuilt my life.” - J.K. Rowling

Titik terendah dalam hidup justru menjadi fondasi yang kuat untuk membangun kembali kehidupan.

 

Bangkit Setelah Gagal Adalah Kemenangan yang Sesungguhnya

Coba cek kembali, Bu! Kalau kita masih merasakan sakitnya suatu kegagalan, mungkin selama ini kita terlalu fokus pada hasil akhir. Padahal ada kemenangan lain yang jauh lebih bermakna tapi seringkali luput dari perhatian kita: tetap bangkit setelah jatuh.

 

Tetap bangun pagi meski semalam menangis.
Tetap mengurus keluarga dan membereskan rumah meski hati lagi capek dan sedih.
Tetap melanjutkan hidup meski pernah merasa ingin menyerah.

 

Bukankah itu juga bentuk keberanian?

 

“I’ve failed over and over and over again in my life. And that is why I succeed.” - Michael Jordan

"Saya telah gagal berkali-kali dalam hidup saya. Dan itulah mengapa saya berhasil." - Michael Jordan

 

Karena ternyata, bangkit lagi setelah jatuh memang butuh keberanian yang besar. 

 

Dan tahu, nggak, Bu? Itu adalah kemenangan yang layak dirayakan. (WS/OPP)

*

Hai Bu, aku Wulan, ibu rumah tangga dengan satu orang balita. Mencoba slow living di tanah kelahiran sembari belajar skill digital dari rumah, khususnya tentang virtual assistant dan content writing, demi membangun karir masa depan yang lebih fleksibel. Memiliki minat besar terhadap menulis dan sangat terbuka dengan berbagai kesempatan kolaborasi di bidang menulis.